ArgaPro

Gemar Membeli Sesuatu Yang Tidak Dibutuhkan? Yuk Ketahui Diderot Effect Di Zaman Sekarang


DITULIS OLEH CHACA ZAFIRA PADA 17 APR 2020 | EDUKASI FINANSIAL


Perilaku Boros, Hedon, dan Gemar Membeli Sesuatu yang Tidak Diperlukan

Diderot Effect secara sederhana didefinisikan sebagai suatu kondisi atau perilaku yang membuat orang terus membeli barang baru demi melengkapi atau menyempurnakan barang yang sudah dimiliki. Istilah ini diciptakan oleh seorang antropolog bernama Grant McCracken pada tahun 1988.

 

Siapakah Diderot Itu?

Diderot adalah salah seorang filsuf, sastrawan, dan dramawan Perancis yang hidup pada abad ke-18. Kisah ini bermula ketika suatu hari Diderot menerima hadiah berupa mantel sutra kirmizi yang begitu indah dari seorang kawannya. Ini hadiah yang tak biasa bagi seorang yang selama dikenal miskin. Begitu miskinnya Diderot, bahkan ia pernah menjual perpustakaannya kepada Ratu Rusia kala itu, Katharina Agung, dengan mahar £1000 ketika mengalami kesulitan finansial pada tahun 1765. Maka, ketika ia mendapat hadiah mantel mewah tersebut, Diderot pun amat semringah. 

Selama berhari-hari Diderot mengagumi keindahan mantel tersebut. Namun, lama kelamaan, ia merasa perabotan di apartemennya begitu buruk hingga tampak tidak serasi dengan keberadaan mantel tersebut. Maka ia pun memutuskan untuk membeli berbagai perabotan baru yang lebih mewah. Kepongahannya ini kelak akan menjatuhkan Diderot kembali ke lubang hitam yang sama.Kursi dari kulit jerami yang sudah lapuk ia ganti dengan sofa elegan yang dibalut kulit Maroko. Meja tulisnya yang sudah rongsok dibuang lalu diganti dengan meja terbaru. Wallpaper tembok yang sudah koyak di sana-sini digantinya dengan yang baru dan berwarna lebih cerah. Diderot bahkan membeli alat cetak yang lebih canggih. Ketika apartemennya telah terisi perabotan anyar, Diderot akhirnya merasa mantel mewah itu berada di tempat yang pas. 

Hingga kemudian Diderot menyadari sesuatu: bahwa untuk melakukan itu semua, ia harus menghabiskan banyak uang dan berutang sana-sini. Walhasil, Diderot kembali jatuh miskin hanya karena ingin menyesuaikan penampilan rumah dengan mantel mewahnya. Ia telah diperbudak oleh benda yang dikaguminya.

“Aku pemilik mantel tua yang kini menjadi budak dari mantel yang baru,” tulisnya dengan penuh penyesalan dalam "Regrets for my Old Dressing Gown"(1875). 

Sikap borosnya itu kelak dikenal dengan istilah Diderot Effect atau Efek Diderot.



Lantas, Bagaimana Diderot Effect bekerja?

Contoh: Anda baru saja membeli jam tangan baru, namun Anda merasa sepatu, baju, celana, tas yang Anda kenakan tidak cocok dengan jam tersebut. Maka Anda pun menyingkirkan semuanya dan membeli yang baru hanya agar jam tersebut terasa lebih serasi saat dikenakan. Atau saat membeli mobil baru, Anda merasa harus memasang pelapis kursi yang lebih nyaman, mesin yang lebih tangguh, atau perangkat hiburan agar mobil itu makin apik. 

Dengan demikian, Diderot Effect dapat dikatakan sebagai keputusan untuk melakukan pembelian reaktif yang sebetulnya tidak benar-benar diperlukan. Kepemilikan suatu barang baru tidak akan membuat Anda puas, sebab Anda ingin lagi, lagi, dan lagi. Perilaku hedonis seperti ini akan terus Anda lakukan sebagai bagian untuk membentuk identitas sosial yang lebih sempurna menurut Anda.

#AlirkanKebaikan

Hak Cipta PT Arga Berkah Sejahtera © 2019

PERHATIAN:

  1. Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (“LPMUBTI”) merupakan kesepakatan perdata antara Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak.
  2. Risiko pendanaan atau gagal bayar ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Pinjaman.
  3. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.
  4. Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pemberi Pinjaman dan/atau Penerima Pinjaman) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna (“Pemanfaatan Data”) pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk ponsel pintar atau telepon seluler), perangkat keras maupun lunak, dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.
  5. Penerima Pinjaman harus mempertimbangkan tingkat bunga pinjaman dan biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi pinjaman.
  6. Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui masyarakat luas di media sosial.
  7. Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pemberi Pinjaman atau Penerima Pinjaman.
  8. Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas setiap pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pemberi Pinjaman maupun Penerima Pinjaman (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara dengan Pemberi Pinjaman dan/atau Penerima Pinjaman.
  9. Setiap transaksi dan kegiatan pinjam meminjam atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pinjam meminjam antara atau yang melibatkan Penyelenggara, Pemberi Pinjaman dan/atau Penerima Pinjaman wajib dilakukan melalui rekening escrow dan rekening virtual sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh Penyelenggara sehingga Penyelenggara wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut di atas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.